Cara Membedakan Ikan Arwana Jantan dan Betina

Cara Membedakan Ikan Arwana Jantan dan BetinaIkan arwana (Scleropages formosus) adalah ikan hias yang banyak disukai dan gemari masyarakat, meskipun ikan arwana ini memiliki harga jual relatif tinggi. Ikan arwana memiliki ciri khas yang sangat unik, dan menarik, terumanya corak warna yang sangat beragam mulai dari warna merah, buru, orange, dan kombinasi sehingga banyak disukai.

Dalam beternak ikan arwana, tentunya harus memperhatikan struktur dan manajemen pemeliharaan dengan tepat. Namun, hal utama yang harus diketahaui adalah cara menentukan perbedaan ikan arwana jantan dan betina. Jika masih pemula atau kesulitan dalam menentukan perbedaan ikan arwana jantan dan betina. Berikut penjelasan cara membedakan ikan arwana jantan dan betina dengan mudah.

Cara  Membedakan Ikan Arwana Jantan dan Betina

Ciri-Ciri Ikan Arwana Jantan

  • Bentuk tubuh/badan arwana jantan, lebih langsing dan padat serta memiliki sirip punggung tidak terlalu lebar.
  • Kepala arwana jantan, lebih besar dibandingkan arwana betina, serta memiliki muncong yang meruncing.
  • Insang arwana jantan, lebih kecil jika dibandingkan dengan arwana betina.
  • Gerakan arwana jantan, lebih agresif dan lincah.
  • Warna arwana jantan, lebih cerah dan tampak jelas.
  • Bentuk alat kelamin jantan, memanjang , meruncing dan berwarna kemerahan.
  • Jika perut di urut ke arah kloaka secara lembut dan agak ditekan akan mengeluarkan cairan berwarna putih bening dan kental.

Ciri-Ciri Ikan Arwana Betina

  • Bentuk tubuh/badan arwana betina, lebih bulat dan melebar, serta memiliki sirip punggung lebar.
  • Kelapa arwana betina, lebih kecil dibandingkan arwana jantan, serta memiliki muncong agar tumpul jika dibandingkan pejantan.
  • Insang arwana betina, lebih besar dan lebar.
  • Gerakan arwana betina, lebih lambat karena badan betina lebih besar sulit untuk melakukan pergerakan.
  • Warna arwana betina, tampak kusam bila dibandingkan arwana jantan.
  • Bentuk alat kelamin, bulat dan mengembang berwarna merah muda.
  • Jika perut diurut akan mengeluarkan telur berwarna kuning tua.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Membedakan Ikan Arwana Jantan dan Betina.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Cara Membedakan Ikan Lele Jantan dan Betina

Cara Membedakan Ikan Lele Jantan dan Betina – Menentukan perbedaan ikan lele jantan dan betina merupakan hal yang harus dilakukan, dalam beternak ikan lele. Penentuan tersebut bertujuan untuk mempermudahkan dalam pemijahan (perkawinan) ikan lele antara indukan lele jantan dan betina.

Baca: Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan Nila

Selain itu, membedakan ikan lele jantan dan betina bertujuan untuk mempermudahkan dalam pemisahan dalam perkembangan ikan lele.  Cara membedakan ikan lele jantan dan betina, dapat dilihat berdasarkan ciri-ciri ikan lele. Berikut ciri-ciri ikan lele jantan dan betina.

Ciri-Ciri Ikan Lele Jantan dan Betina

Ciri-Ciri Indukan Lele Jantan

  • Bentuk tubuh lele jantan, ramping, memanjang dan terlihat padat.
  • Bentuk perut, memanjang dan tampak lebih langsing.
  • Kondisi perut lele jantan lebih kenyal, jika dibandingkan betina yang lembek/lunak.
  • Bentuk mulut , runcing dan lebih panjang.
  • Ukuran sirip punggung, lebih panjang dan berwarna sirip lebih terang dibandingkan betina.
  • Bentuk dan ukuran kepala, memiliki ukuran lebih kecil serta terlihat gepeng dan pendek.
  • Gerakan agresif dan lincah.
  • Bentuk alat kelamin memanjang, terlihat meruncing dan berwarna kemerahan

Ciri-Ciri Indukan Lele Betina

  • Bentuk tubuh lele betina, cenderung berbentuk bulat memanjang.
  • Bentuk perut, lebih lebar dibandingkan lele jantan.
  • Kondisi perut lele betina, lebih lunak atau lembek bila diraba.
  • Bentuk mulut, agak tumpul jika dibandingkan lele jantan.
  • Ukuran siri punggung, lebih pendek dan berwarna gelap dibandingkan lele jantan.
  • Bentuk dan ukuran kepala, lebih besar dan tidak terlalu gepeng daripada lele jantan.
  • Gerakan lambat dan jinak sehinga mudah ditangkap.
  • Bentuk alat membulat dan mengembang berwarna merah jambu.
  • Jika perut diurt ke arah kelamin akan keluar telur berwarna kuning tua kecokelatan.

Baca juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Membedakan Ikan Lele Jantan dan Betina. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Pengertian Biosecurity Peternakan

Pengertian Biosecurity Peternakan – Biosecurity berasal dari dua kata yaitu Bio berarti hidup dan Security berarti perlindungan atau pengamanan. Jadi defenisi biosecurity dapat diartikan sebagai salah satu program yang digunakan untuk melindungi atau mengamankan ternak dari beberapa organisme yang menyebabkan ternak terjangkit penyakit.

Baca: Pengertian Ilmu Pemuliaan Ternak

Biosecurity juga dapat diartikan sebagai usaha yang dilakukan untuk mencegah kontak ternak dengan agen atau sumber penyakit sehingga dapat menekankan resiko dan konsekuensi dari penularan penyakit. Biosecurity ini biasanya diterapkan pada peternakan unggas (Ayam, Bebek, Itik, dan sebagainya), dan peternakan ruminansia (Domba, Kambing, Sapi dan sebagainya).

Sumber-Sumber Penyakit Pada Peternakan

Ada beberapa sumber penyakit pada ternaka di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Ternak (sakit, bangkai, ternak pembawa penyakit atau disebut ternak carrier).
  • Manusia (anak kandang, tamu).
  • Pakan, air minum, kotoran ternak, dan limbah peternakan.
  • Hama (rodensia, seperti tikut dan berbagai macam serangga).
  • Burung dan unggas lain (burung yang sering masuk ke area peternakan, seperti burung merpati liar) dan hewan lain (anjing, kucing dan sebagainya).

Tujuan Utama Penerapan Biosecurity

  • Meminimalkan keberadaan penyebab sumber penyakit.
  • Meminimalkan kesempatan agen berhubungan dengan induk semang.
  • Membuat tingkat kontaminasi pada lingkungan oleh agen penyakit semenimal mungkin (Zainuddin dan Wibawan, 2007).

Prinsip Utama Penerapan Biosecurity

Penerapan biosecurity pada peternakan dibagi  menjadi tiga bagian utama, yaitu isolasi, pengendalian lalu lintas (kontrol lalu lintas) dan sanitasi.

1. Isolasi

Isolasi adalah penempatan atau pemisahan ternak dari suatu tempat ketempat lainnya. Bertujuan untuk menentukan menghindari penularan penyakit yang terjangkit dan mempermudahkan pengontrolan dan pengobatan ternak yang terserang.

2. Pengendalian Lalu Lintas (Kontrol Lalu Lintas)

Pengendalian lalu lintas adalah pencegahan yang dilakukan pada lalu lintas ke peternakan dan lalu lintas di dalam peternakan. Pengendalian lalu lintas tersebut, meliputi pada manusia, peralatan, dan bahan yang dibawah ke peternakan. Pengendalian ini berupa penyediaan fasilitas dipping dan spraying pada pintu masuk untuk kendaraan, penyemprotan desinfektan untuk peralatan kandang, sopir, dan petugas lainnya mengganti pakaian khusus. Tujuan pengendalian lalu lintas untuk menghindari masuknya agen atau penyakit ke dalam area peternakan.

3. Sanitasi

Sanitasi adalah salah satu program pembersihan agen penyakit yang menyebabkan ternak terjangkit. Sanitasi ini, seperti membersihkan peralatan yang digunakan, feses (kotoran ternak), sisa pakan dan air minum.  Tujuan sanitasi untuk menghindari penyebaran penyakit  dan memutuskan siklus penyakit di area peternakan.

4. Kontrol Hama

Kontrol hama adalah pembersihan hama yang menyebabkan penyakit timbul di area peternakan. Kontrol hama dapat dilakukan dengan membersihan area perkandangan, meliputi membersihkan gulma atau rumput agar tidak menjadi sarang agen-agen pembawa penyakit dan dilakukan program pembasmian serangga dan tikus, sebagai agen pembawa penyakit.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Pengertian Biosecurity Peternakan.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Pengertian Ilmu Pemuliaan Ternak

Pengertian Ilmu Pemuliaan TernakPemuliaan berasal dari terjemahan Belanda, yaitu Veredeling. Dalam bahasa Inggris, yaitu breeding. Pengertian pemulian secara umum adalah salah satu kegiatan manusia dalam memelihara tanaman atau hewan untuk melindungi sifat asli galur atau ras dan memperbaiki produksi ataupun kualitasnya.

Defenisi pemuliaan ternak adalah cabang ilmu biologi, genetika terapan dan metode untuk meningkatkan atau memperbaiki genetik ternak. Pemuliaan dapat diartikan sebagai untuk meningkatkan mutu genetik, mutu genetik ini adalah kemampuan sifat yang diwariskan dari tetua dan moyang dari ternak tersebut.

Jenis- Jenis Pemuliaan Ternak

Pemuliaan ternak dapat dibagi menjadi 3 bagian , yaitu Inseminasi Buatan (IB), Transfer Embrio (TE) dan Cloning.

1. Inseminasi Buatan (IB)

Inseminasi buatan atau kawin suntik merupakan salah satu cara perkawinan buatan dengan cara memasukan semen jantan ke organ reproduksi betina dengan bantuan alat dan manusia.

Tujuan inseminasi buatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas genetik ternak, meningkatkan produksi dan kelahiran serta menciptakan ternak unggulan.

2. Tranfer Embrio (TE)

Transfer embrio adalah lanjutan dari inseminasi buatan, transfer embrio dikenal dengan genetic manipulation adalah salah satu teknik dimana embrio dikoleksi dari alat kelamin ternak betina menjelang nidasi dan transplantasi kedalam saluran reproduksi betina untuk melanjutkan kebuntingan hingg sempurna.

Tujuan transfer embrio adalah meningkatkan kapasitas reproduksi ternak yang unggulan dan berharga, dan membantu meningkatkan ternak yang dihasilkan.

3. Cloning

Cloning adalah salah satu metode menirukan atau mengcopy sifat asli indukan dan ciri-ciri yang dimiliki indukannya. Atau cloning disebut juga mengandakan sifat asli atau ciri yang dimiliki oleh ternak tersebut sama persis.

Tujuan cloning sebenarnya untuk menirukan atau menciptakan hewan dalam bentuk, ciri dan sifat yang sama dari suatu ternak.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Pengertian Ilmu Pemuliaan Ternak. Semoga berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Cara Membuat Pakan Alternatif Ayam Petelur

Cara Membuat Pakan Alternatif Ayam Petelur – Pakan merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi oleh ternak ayam petelur atau unggas lainnya. Kebutuhan yang sangat besar dalam budidaya ayam petelur dan meningkatnya harga jual pakan. Para peternak bisa membuat pakan pakan sendiri atau pakan alternatif.

Baca: Cara Mengobati Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Hewan

Dengan membuat pakan alternatif, akan membantu mengurangi pengeluaran dan menghemat biaya yang dikeluarkan. Namun dalam pembuatan pakan ini, sebaiknya harus mengetahui penyusunan pakan dan kebutuhan kandungan nutrien, seperti energi, protein, lemak, mineral dan lainnya.

Ada beberapa bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan ayam petelur, diantaranya adalah sebagai berikut:

Bahan-Bahan Pembuatan Pakan Ayam Petelur

  • Ampas tahu, Ampas kelapa, Ampas kedelai
  • Bekatul
  • Jagung giling
  • Dedak padi
  • Kacang tanah
  • Sorgum
  • Tepung ikan
  • Singkong
  • Limbah pertanian dan rumah tanggah, seperti sawi, kangkung, kubis, dan sebagainya

Peralatan Yang digunakan

  • Terpal
  • Bak/tong berukuran besar
  • Plastik
  • Pengaduk
  • Air dan sebagainya

Cara Membuat Pakan Alternatif Ayam Petelur

  1. Lakukan pengeringan semua bahan baku yang digunakan, sekitar 1-2 minggu bahkan lebih. Lalu kemudian digiling hingga menjadi tepung.
  2. Setelah itu, campurkan semua bahan yang digiling hingga merata didalam bak atau tong besar atau menggunakan mesin pencampuran.
  3. Lalu cetakan dengan menggunakan mesin pelleter, atau bisa juga tidak menggunakan mesin.
  4. Kemudian, lakukan penjemuran selama 1-2 hari bahkan lebih hingga pakan kering.
  5. Dalam pembuatan, pakan ini bisa juga menambahkan vitamin dan obat antibiotik dalam bentuk cairan untuk membantu meningkatkan kekebalan tubuh dan menghambat serangan beberapa penyakit.
  6. Pemberian pakan dilakukan 2 kali dalam sehari, dengan memberikan ½ – ¼  dari tempat pakan yang berukuran sedang dan tambah air sedikit.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang  Cara Membuat Pakan Alternatif Ayam Petelur.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, terima kasih.

Cara Mengobati Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Hewan

Cara Mengobati Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Pada Hewan Penyakit Mulut dan Kuku, atau dikenal dengan Food and Mouth Disease adalah salah satu penyakit yang sangat berbahaya bagi hewan atau ternak. Penyakit ini akan menyerang hewan, seperti kambing, domba, sapi, kerbau, babi dan lainnya.

Baca: Cara Mengobati Penyakit Berak Darah (Coccidiosis) Pada Kelinci

Penyakit Kuku dan Mulut, disebabkan oleh virus dari genus Aphithorus  yang masih dalam famili Picorniviridae. Virus ini terdapat tujuh (7) tipe, yaitu A, O, C, ASIA, SAT (South Africa Teritory) 1, 2 dan 3. Di setiap tipe virus masih terbagi lagi menjadi sub dan galur. Sejauh ini kebanyakan di Indonsia sering terserang PMK dari virus tipe O, dengan diameter 10-20 mm dan terbentuk dari RNA dan diselubungi oleh protein.

Penularan PMK, bisa melalui peralatan yang digunakan, sisa pakan dan minum, lingkungan, karyawan peternak, dan sebagainya.

Gejala dan Ciri  PMK Pada Hewan

Ada beberapa gejala dan ciri penyakit PMK pada hewan, umumnya adalah:

  • Kondisi hewan atau ternak demam mencapai 40-41 derajat celcius
  • Suka menendang kaki, karena vesikula pada membrane mukosa hidung
  • Terdapat benjolan bulat berukuran kecil di rongga saliva
  • Hewan atau ternak pincang, bahkan sulit berdiri
  • Nafsu makan menurun, mengakibatkan tubuh lemah dan lesu

Cara Mengatasi dan Mengobati PMK Hewan

Pengendalian PMK:

  • Memisahkan ternak yang terinfeksi kekandang tertentu, bertujuan untuk menghambat penyebaran dan mudahkan dalam pengobatan.
  • Menjaga kebersihan perkandangan, lingkungan areal perkandangan, tempat pakan dan minum dan peralatan yang digunakan.
  • Lakukan penyemprotan Insektisida, Bakterisida, atau Desinfektan secara berskala di areal perkandangan, untuk membunuh dan menghambat perkembangan penyakit.
  • Pemberian obat Antibiotik dan Vitamin, bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan menangkal penularan penyakit pada hewan.
  • Lakukan vaksinasi secaka berskala, terutamanya berikan vaksin aktif mengandung adjuvant untuk penyakit PMK.
  • Penerapan Biosekuriti diareal masuk dan luar kandang, agar ternak dan peternak tidak terjangkit PMK.
  • Lakukan pemusanahan, sampah, bangkai dan semua produk yang berasal dari hewani yang terinfeksi oleh PMK.

Pengobatan PMK:

  • Pemotongan atau pembuangan jaringan tubuh hewan yang terinfeksi.
  • Diberikan obat antiseptik pada daerah terjangkit. Obat antisepti yang diberikan, sepert Analgesil (Parasetamol).
  • Disuntik dengan Injeksi Intravena Peraparat Sulfadimidine, Immungoglobulin IV (IGIV), bila disertai juga penyakit dari Imonokompromis (Neonatus).
  • Diolesi dengan larutan Cuprisulfat 5-6% setiap hari selama 1 minggu.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Mengobati Penyakit Mulut dan Kuku Pada Hewan.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, terima kasih.

Cara Mengobati Penyakit Cacingan Pada Sapi Bali

Cara Mengobati Penyakit Cacingan Pada Sapi BaliPenyakit cacingan sapi adalah salah satu penyakit yang sangat sering dialami oleh ternak sapi. Penyakit ini tergolong sangat mudah ditangani, namun harus segera diatasi untuk mengindari kerugian akibat penyakit ini.

Baca: Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Jembrana Sapi Bali

Cacing yang menyerang ternak sapi sangat beragam dan sangat banyak jenis, tetapi yang sering menyerang ternak sapi adalah cacing pita dan cacing hati. Penularan penyakit cacingan ini disebabkan oleh kondisi pakan terlalu basah atau tidak bersih, dan juga rumput terdapat larva cacing.

Gejala dan Ciri Penyakit Cacingan Pada Sapi

  • Kotisipasi atau sulit buang air besar pada sapi
  • Kotoran sapi lebih kering
  • Pertumbuhan lambat, akibat dari menurunnya nafsu makan
  • Sapi terinfeksi dalam jumlah banyak, akan menyebabkan anemia.
  • Gerakan lambat, melemah dan mata sayu
  • Nafas terangah-engah, hidung dan mulut mulai kering

Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Cacingan Pada Sapi

Pengendalian:

  • Menjaga kebersihan kandang, tempat pakan dan minum, peralatan yang digunakan dan lingkungan sekitar kandang.
  • Memberikan pakan yang bersih, tidak terlalu basah atau lembab dan menghindari penggunaan pakan yang terdapat larva cacing.
  • Jangan terlalu sering menggembalakan sapi, karena tidak bisa mengontrol kebersihan rumput yang akan dikonsumsi sapi.
  • Melakukan vaksinasi dan pemberian obat cacingan secara berskala.

Pengobatan:

  • Obat yang biasanya digunakan oleh dokter hewan adalah Benzimidazol, Imidathiazol, dan Avermectin (konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter hewan sebelum menggunakannya).
  • Adapun obat lain yang dapat diberikan, misalnya Valbazen (albendazole) 10-20 mg/kg berat badan sapi, Devnix (nitroxinil) 0,4 ml/kg berat badan, Mezbenzole 10-13.5 mg/kg berat badan, dan Thiabendazole 40-44 mg/kg berat badan.
  • Pengobatan tradisional dengan pemberian daun atau buah nas,terutamanya terserang penyakit cacing nematoda. Untuk cara lain bisa diberikan bawang putih karena sangat efektif dan tidak terdapat efek samping.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Mengobati Penyakit Cacingan Pada Sapi Bali. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Jembrana Sapi Bali

Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Jembrana Sapi BaliPenyakit jembrana (penyakit keringat darah) adalah salah satu penyakit menular, berbahaya dan bersifat ganas pada sapi bali. Penyakit jembrana ini disebabkan oleh virus jembrana (retrovirus) yang masuk kedalam famili Retroviridae, subfamli Lentivirinae (virus penyebab turunnya daya kekebalan tubuh).

Baca: Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Surra Pada Sapi

Penularan Penyakit Keringat Darah (Penyakit Jembrana) dari sapi ke sapi lainnya diperkirakan oleh serangga penghisap darah, seperti lalat, kutu caplak dan nyamuk. Berikut gejala atau ciri-ciri yang ditimbulkan jika ternak terserang penyakit jembrana (keringat darah)

Gejala dan Ciri-Ciri Penyakit Jembrana Pada Sapi Bali

  • Ternak sapi akan mengalami demam tinggi, dengan suhu badan berkisar 38 C – 42 C
  • Terjadi pembengkakan pada bagian kelenjar limfa
  • Pada selaput lendir mulut akan terdapat luka (erosi)
  • Ternak yang terjangkit akan mengalami pendarahan kulit (keringat darah)
  • Ternak akan diare bercampur darah
  • Jika tidak ditangani, sapi yang terserang akan mengalami kematian mendadak

Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Jembrana Sapi Bali

Pengendalian Jembrana:

  • Karantina, ternak yang baru datang dari tempat lain kelokasi peternakan yang terpisah selama beberapa hari.
  • Isolasi, ternak yang terjangkit penyakit jembrana secara terpisah dari sapi lainnya dikandang tertentu. Isolasi tersebut dilakukan perawatan da pengobatan sapi hingga sembuh.
  • Sanitasi, dengan menjaga kebersihan kandang, lokasi kandang, dan peralatan yang digunakan dalam beternak sapi bali.
  • Penyemprotan Insektisida (serangga), penyemprotan bertujuan untuk memusnahkan serangga penghisap seperti lalat, caplak dan nyamur.
  • Penyemprotan desinvektan, penyemprotan ini dilakukan di lokasi kandang atau sekitar kandang yang menyebabkan penyakit jembrana.
  • Vaksinasi, untuk mencegah terjangkit penyakit jembrana, maka semua sapi sehat harus dilakukan vaksinasi. Vaksinasi ini bertujuan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh ternak dengan baik sehingga sapi tidak mudah terserang penyakit.
  • Pemberian antibiotik dan vitamin, dengan melakukan pemberian antibiotik dan vitamin juga dapat mencegah agar sapi bali tidak mudah terserang penyakit jembrana.
  • Penggunaan bibit unggul, terseleksi dan tahan terhadap penyakit.
  • Manajemen pemeliharaan dengan baik dan benar

Pengobatan Jembrana:

  • Memberikan jamu campuran setiap hari dan memberikan minum cairan elektrolit (air 1 liter, garam 1 sendok, dan gula 8 sendok) setiap hari dan memberikan bodrex sevanyak 2,5 tablet setiap 6 jam bertujuan untuk menurunkan panas, agar tidak sapi dehidrasi atau kekurangan cairan dan menaikan stamina sapi.
  • Biasanya pengobatan penyakit jembrana tidak bisa dilakukan, bila terjangkit penyakit jembrana gejala subklinis langsung diberikan vaksi mati (whole inactivated vaccine) yang dibuat dari limpa yang diemilsikan dengan adjuvant.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Jembrana Sapi Bali.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

 

Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Surra Pada Sapi

Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Surra Pada SapiPenyakit surra  adalah salah satu jenis penyakit yang disebabkan oleh parasit Trypanosoma evansi. Parasit ini hidup dalam darah induk semang dan memproleh glukosa sehingga dapat menurunkan kadar glukosa induk semangnya.

Baca: Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit CRD Pada Ayam

Penyakit surra sering menyerang sapi pada musim hujan, dimana kondisi kekebalan sapu menurun dan melemah. Penularan penyakit ini biasanya terjadi secara mekanis dengan perantara lalat penghisap seperti Tabanidae, Stomoxys, Lyperosia, Charysops, dan Hematobia  serta jenis arthopoda seperti kutu dan pinjal.

Gejala dan Ciri Penyakit Surra Pada Sapi

Gejala dan ciri-ciri penyakit surra pada sapi, umumnya adalah sebagai berikut:

  • Gerakan sapi tidak beraturan (sempoyongan, jalan berputar-putar, bahkan kejang-kejang)
  • Nafsu makan menurun, sehingga kondisi tubuh melemah, dan lesu
  • Bulu rontok, dan kusam
  • Selaput lendir berwarna kekuningan
  • Kondisi tubuh panas (demam) dan cepat mengalami kelelahan
  • Terdapat bekas atau luka kecil pada isapan lalat penghisap

Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Surra Pada Sapi

Pengendalian:

  • Lakukan pengasiangan ternak sapi, dikandang tertentu agar tidak tertular dengan yang lainnya.
  • Bila lokasi atau lingkungan terjangkit penyakit surra, sebaiknya lakukan pemblokiran ternak lain agar tidak masuk ke lokasi yang sudah terkontaminasi.
  • Semua ternak yang sudah terjangkit, sebaiknya di bunuh atau dibakar, serta dikubur.

Pencegahan:

  • Pencegahan sering menggunakan obat-obatan, seperti Qumapyrame atau Aritrycide prosalt dengan konsentrasi 10% pada dosis 1,7 m/kg dari bobot badan secara subcutan
  • Pemberian naganol atau suramin pada ternak dengan dosis 3 gram sesuai dengan berat badan hewan
  • Pemberian siometamidium dengan dosis 0,5-1 m/kg dari berat badan secara intrarnuskuler

Pengobatan:

  • Secara mekanis, yaitu menggunakan binatang, seperti sebangsa burung yang menjadi musu dan serangga.
  • Secara biologis, yaitu membuat drainase dengan tujuan untuk merusak sarang atau tempat perkembangbiakan lalat yang biasanya hidup dipermukaan air yang tergenang.
  • Secara kimiawi, yaitu menggunakan larutan insektisida, seperti DDT 0,5-1%, Toxaphene 0,5%, Pyrehnlne 1 %, dan lain-lain. Biasanya juga yang paling banyak untuk membrantas penyakit surra adalah suramin (Bayer), Ismetamidium chiorida (Trypamldium, specia)

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Surra Pada Sapi.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, terima kasih.

Cara Mengatasi dan Mengobati Kutu Caplak Pada Sapi

Cara Mengatasi dan Mengobati Kutu Caplak Pada SapiKutu caplak atau dikenal dengan kutu babi memiliki nama ilmiah Boophilus micropluss  adalah salah satu penyakit yang tergolong merugikan bagi peternakan sapi di dunia. Caplak ini memiliki ukuran kecil, hampir menyerupai biji mentimum dan berwarna coklat kehitaman. Biasanya dapat ditemukan pada daerah tertentu, seperti telinga, selengkangan paha, daerah mata dan lainnya.

Baca: Tanda-Tanda Sapi Hamil (Bunting) Muda-Tua

Caplak ini akan menempel dan menghisap darah secara terus menerus. Caplak ini juga dikenal dengan caplak satu induk, yaitu dapat diartikan larva, nimfa, dapat di jumpai pada satu induk semang. Setelah kenyang menghisap daraj akan menjatuhkan diri dari induk semang untuk bertelur. Telur yang dihasilkan sejumlah 3000-5000 butir dikeluarkan sedikit demi sedikit setiap harinya.

Gejala Terserang Kutu Caplak Pada Sapi

Gejala dan ciri-ciri kutu caplak pada sapi, umumnya adalah sebagai berikut:

  • Kepala sapi tertunduk lesu, dan tampak lemah
  • Penurunan nafsu makan, sehingga menyebabkan produksi daging dan susu menurun
  • Bulu kusam dan rontok
  • Terdapat luka, akibat hisapan dari kutu caplak

Cara Mengatasi dan Mengobati Kutu Caplak Pada Sapi

Pengendalian:

  • Menjaga kebersihan kandang, peralatan kandang, tempat pakan dan minum serta peternak sapi
  • Kandang sebaiknya harus dalam keadaan kering dan terjaga kebersihannya
  • Melakukan sanitasi kandang, dan aliran udara
  • Mengusahan agar lokasi usaha peternakan tidak terkontaminasi penyakit, jauh dari pemukiman dan jauh dari industri
  • Mengusahan penggunaan anakan unggul dan sudah terseleksi oleh dinas peternakan

Pengobatan:

  • Bisa memandikan atau merendamkan ternak dengan larutan insektisida secara teratur, 2-3 kali dalam seminggu.
  • Penggunaan obat cair seperti Paramectin, Noticks Spray, Intermectin, Wormectin, dan sebagainya. Digunakan dengan dosis dan ketentuan yang sudah diterapkan.
  • Bisa dilakukan dengan manual, dengan cara mengumpulkan kutu caplak dan membakarnya.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Mengatasi dan Mengobati Kutu Caplak Pada Sapi.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.