Karakteristik Kambing Muara

Karakteristik Kambing MuaraKambing muara adalah kambing lokal Indonesia, yang banyak ditemukan di Kabupaten Tapanuli Utara, Kecamatan Muara Provinsi Sumatra Utara. Meskipun kambing lokal bobot badan kambing muara lebih besar dibandingkan dengan kambing kacang dan diduga kambing muara adalah kambing prolifik.

Baca: Karakteristik Kambing Kosta

Kambing muara merupakan jenis kambing yang subur bisa melahirkan anak 2 – 4 ekor, dan sangat baik dalam kemampuan memelihara dan menyusui anaknya.

Karakteristik atau Ciri – Ciri Kambing Muara

Adapun ciri-ciri kambing muara, secara umum adalah sebagai berikut:

  • Warna tubuh bervariasi, seperti merah bata, putih, hitam dan kombinasi.
  • Bobot badan betina  dewasa 49,4 kg dan jantan 68,3 kg
  • Panjang badan betina 75,8 cm dan jantan 96,3 cm.
  • Tinggi pundak betina 69,7 cm dan jantan 87,6 cm.
  • Tinggi pinggul betina 72,2 cm dan jantan 89,2 cm.
  • Lingkar dada betina 84,5 cm dan jantan 98,7 cm.
  • Lebar dada betina 18,6 cm dan 38,5 cm.
  • Dalam dada betina 38,7 cm dan jantan 50,7 cm.
  • Panjang tanduk 13,4 cm dan jantan 27,2 cm.
  • Panjang telinga betina 18,3 cm dan jantan 19,4 cm.
  • Lebar telinga betina 8,3 cm dan jantan 8,8 cm.
  • Panjang ekor betina 10,5 cm dan jantan 9,7 cm.
  • Lebar ekor betina 4,6 cm dan jantan 5,2 cm.
Keuntungan Beternak Kambing Muara
  • Produksi daging lebih banyak dibaningkan kambing lokal lainnya.
  • Produksi susu dikalah dengan kambing PE.
  • Mudah beradaptasi dan mudah diternakan seperti kambing lokal lainnya.
  • Harga jual lumayan cukup tinggi.

Baca juga: 

Demikianlah informasi tentang Karakteristik Kambing Muara. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, serta menambah wawasan anda. TERIMA KASIH.

Karakteristik Kambing Kosta

Karakteristik Kambing Kosta Kambing Kosta merupakan salah satu kambing hasil persilangan antara Kambing Kacang dengan Kambing Kashmir (kambing impor), mempunyai tubuh sedang, hidung rata, tanduk pendek, dan bulu pendek (Dinas Pertanian, dan Peternakan Banter, 2011).

Baca: Karakteristik Kambing Gembrong

Kambing Kosta awal mula ditemukan di Provinsi Banter, terdapat di Kabupaten Serang, Pandeglang dan juga dapat ditemukan di wilayah Tanggerang dan DKI Jakarta (Nurmendiansyah dan Heriyadi, 2007).

Karakteristik Atau Ciri-Ciri Kambing Kosta

Karakteristik kambing kosta, dari beberapa sumber adalah sebagai berikut:

  • Warna dominan kambing kosta, menurut Batubara et al., (2006), dalam persentase adalah warna hitam (61%), coklat tua (20%), coklat merah (5,8%), dan abu-abu (3,4%).
  • Bentuk badan kambing kosta betina, menurut Ivan MM et al., (2015), lingkar dada 58,70 cm, lebar dada, 14,05 cm, dalam dada 28,11 cm, lebar pinggul 32,62 cm, tinggi pinggul 42,88 cm, tinggi gumba 42,22 cm, panjang badan 41,14 cm, lebar kepala 7,4 cm, panjang kepala 16,33 cm, indeks kepala 0,46 cm dan bobot badan 22,40 kg.
  • Bentuk badan kambing kosta jantan, menurut Fajar et al., (2013), panjang badan 52,75 cm, tinggi pundak 45,83 cm, lingkar dada 61,33 cm, dan bobot badan 24,17 kg.
Keuntungan Beternak Kambing Kosta
  • Proses Pemeliharaan tergolong sangat mudah, bisa digembalan atau diumbar.
  • Adaptasi lingkungan sangat relative tinggi, seperti kambing kacang.
  • Memiliki potensi daging yang berkualitas.
  • Harga jual juga sangat relative mahal.

Baca juga:

Demikianlah informasi tentang Karakteristik Kambing Kosta. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, serta menambah wawasan anda. TERIMA KASIH.

Karakteristik Kambing Gembrong

Karakteristik Kambing Gembrong – Kambing Gembrong merupakan salah satu jenis kambing lokal yang yang awalnya hanya ditemukan di Bali bagian Timur, yaitu Kabupaten Karangasem yang dipelihara oleh petani/peternak secara ekstensif (tidak dikandangkan) atau dikandangkan dengan kandang yang sangat sederhana.

Baca: Karakteristik Kambing Jawarandu (Bligon)

Saat ini populasi kambing Gembrong dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan, apalagi penggunaan bulu panjang dimanfaatkan sebagai umpan untuk mincing semakin kurang diminati. Namun, untuk kebutuhan daging masih banyak yang minat karena daging yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi dibandingkan dengan kambing lokal lainnya.

Karakteristik Kambing Gembrong

Karakteristik atau ciri-ciri kambing Gembrong, menurut  Suyasa et al., (2014) adalah sebagai berikut.

  • Berbulu lebat dan panjang, terutama pada jantan dengan dominan berwarna putih (94,12%), dan abu-abu (5,88%).
  • Panjang bulu jantan disekujur tubuh (leher, badan, paha belakang, muka) berkisar anatar 9-11 cm, kecuali janggut berkisar 19,79 cm.
  • Panjang bulu betina disekujur tubuh terjenggot berkisar 5,30-8,80 cm.
  • Bobot badan jantan dewasa berskiare 29,15 kg dan betina dewasa 18,20 kg.
  • Bobot lahir anak jantan berkisar 1,23 kg dan betina 1,30 kg.
  • Bobot bulu jantan 0,54 kg.
  • Panjang tanduk jantan dewasa 13,17 cm dan betina dewasa 4,40 cm.
Keuntungan Beternak Kambing Gembrong

Adapun beberapa keuntungan beternak kambing Gembrong, yaitu:

  • Proses pemeliharaan mudah dan sederhana, seperti kambing lokal lainnya.
  • Bulu yang dihasilkan sangat berkualitas.
  • Adaptasi sangat baik pada lingkungan baru.
  • Pakan yang diberikan bisa hijauan, ataupun konsentrat.

Baca juga:

Demikianlah informasi tentang Karakteristik Kambing Gembrong. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, serta menambah wawasan anda. TERIMA KASIH.

 

Karakteristik Kambing Jawarandu (Bligon)

Karakteristik Kambing Jawarandu (Bligon) Kambing Jawarandu merupakan hasil persilangan antara kambing Ettawa dengan kambing lokal (kambing Kacang) dengan persentase genetik kambing Kacang lebih tinggi, yaitu lebih dari 50%.

Baca: Karakteristik Kerbau Murrah

Kambing Jawarandu memiliki dua kegunaan, yaitu penghasil susu (perah) dan pedaging unggul (Sarwono, 2008). Kambing  Jawarandu termasuk ternak yang mudah dipelihara karena dapat mengkonsumsi berbagai macam hijauan, termasuk rumput lapang dan juga perkembangan kambing ini cukup cepat.

Karakteristik atau Ciri-Ciri Kambing Jawarandu

Ciri-ciri kambing Jawarandu, dari beberapa sumber adalah sebagai berikut:

  • Bentuk muka cembung dan dagu berjanggut.
  • Di bawah leher terdapat gelambir yang tumbuh dari sudut janggut.
  • Telinga panjang, lembek, mengantung dan ujungnya agak berlipat.
  • Tanduk berdiri tegak ke belakang, panjang 6,5 cm – 24,5 cm.
  • Tinggi tubuh (gumba) 70-90 cm, tubuh besar dan pipih.
  • Bentuk garis punggung seolah-olah mengombak kebelang.
  • Buluh tubuh tampak panjang dibagian leher, pundak, punggung dan paha.
  • Kambing ini mampu tumbuh 50-100 g/hari.
  • Berat badan betina anatara 34-45 kg dan jantan berskiar antara 40-60 kg.
  • Produksi susu 1-1,5 1/hari.
  • Kambing Jawarandu menghasilkan anak 1-3 ekor per kelahiran.
Keuntungan Beternak Kambing Jawarandu
  • Proses pemeliharaan sangat mudah, seperti kambing kacang. Bisa digembalakan atau tidak.
  • Produksi susu dan daging yang dihasilkan sangat unggul, jika dibandingkan dengan kambing lokal.
  • Perkembangan sangat cepat, karena kambing ini tidak memilih-milih pakan.
  • Mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.
  • Harga jual relatif tinggi.

Baca juga:

Demikianlah informasi tentang Karakteristik Kambing Jawarandu (Bligon). Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, serta menambah wawasan anda. TERIMA KASIH.

Mengenal Karakteristik Kambing Saanen (Capra aegagrus hircus)

Mengenal Karakteristik Kambing Saanen (Capra aegagrus hircus) – Kambing Saanen merupakan salah satu jenis kambing penghasil Susu terbesar. Kambing ini berasal dari Lembah Saanen, Swiss bagian barat.

Baca: 17 Cara Beternak Bebek Peking Bagi Pemula

Kambing ini sangat sulit di ternak kan di wilayah tropis karena kepekaaannya terhadap matahari. Oleh karena itu, jenis kambing ini jika diternak di Indonesia disilangkan lagi dengan jenis kambing lain yang lebih resisten terhadap cuaca tropis, seperti dengan kambung peranakan etawa.

Karakteristik atau Ciri-Ciri Kambing Saanen

Menurut et al (2001), cirri-ciri kambing saanen adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki bulu yang pendek
  2. Dominan berwarna putih
  3. Memiliki hidung lurus
  4. Bagian muka berbentuk, seperti segi tiga
  5. Memiliki telinga tegak lurus ke depan
  6. Bagian ekor tipis dan pendek
  7. Jantan dan betina memiliki tanduk
  8. Panjang ambing berbeda-beda sekitar 3-4 cm dan panjang putting 5-6 cm
  9. Berat dewasa jantan reentang 68-91 kg dan betina 36-63 kg.
  10. Berat lahir anak kambing saanen, jantan 3 kg dan betina 3,3 kg
  11. Produksi susu kambing Saanen bisa mencapai 4/1 hari (Moeljanto dan Bernadius, 2002)
  12. Produksi kambing Saanen dalam satu periode dalam satu laktasi mencapi 2695,3 kg (setiadi et al., 2001)
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produksi Susu

Menurut Makin (2011), faktor yang mempengharuhi produksi susu kambing Saanen, yaitu:

  • Kesehatan ternak,
  • Tata laksana,
  • Pakan,
  • Manajemen pemerahan
  • Dan umur ternak

Baca juga:

Demikianlah informasi tentang  Mengenal Karakteristik Kambing Saanen (Capra aegagrus hircus).  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, serta menambawa wawasan anda dalam mengenal beberapa jenis kambing.  Jangan Lupa Share dan Like. TERIMA KASIH.

10 Cara Mudah Membuat Silase Jerami Padi Untuk Pakan Ternak Ruminansia

10 Cara Mudah Membuat Silase Jerami Padi Untuk Pakan Ternak Ruminansia Apa itu Silase? Silase adalah salah satu pakan yang diawetkan dengan beberapa proses dengan menggunakan bahan baku berupa, tanaman hijauan, limbah industry pertanian dan bahan alami lainnya.

Baca: Mengenal Karakteristik Sapi Simental (Simental Cow)

Namun, dalam kesempatan ini salah satu limbah yang dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternative adalah limbah jerami padi untuk pakan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, kerbau dan sebagainya. Kandungan jerami padi menurut Sarwono dan Arianto (2003) adalah Bahan kering (BK) 92,00%, Protein kasar (PK) 5,31%, Lemak kasar (LK) 3,32%, Serat kasar (SK) 32,14%, BETN 36,68%, Abu 22,25%, ADF 51,53%, NDF 73,82% dan Lignin 8,81%.

Alat dan Bahan Yang Digunakan:

Alat:

  • Timbangan
  • Ember
  • Terpal
  • Drum plastik
  • Plastic penutup dan lakban (untuk mengguatkan saat mengunci drum plastik bila diperlukan)

Bahan:

  • Jerami padi 30 kg
  • EM4 20 ml
  • Bekatul 3 kg (10% dari 30 Kg jerami)
  • Molases (tetes tebu) 500 ml
  • Air secukupnya
Cara Membuat Silase Jerami Padi Pakan Ternak Ruminansia
  1. Jerami padi dipotong-potong atau digiling dahulu hingga memiliki ukuran yang lebih kecil, agar ternak dapat mengkonsumsinya dengan mudah.
  2. Lakukan penimbangan bahan yang digunakan sesuai dengan yang diatas Jerami padi 30 kg, EM4 20 ml, Bekatul 3 kg (10% dari 30 Kg jerami) dan Molases (tetes tebu) 500 ml.
  3. Kemudian campurkan terlebih dahulu EM4 dan Molases serta air, didalam ember hingga merata dan masukan kedalam gembor plastic.
  4. Letakan jerami padi diatas plastic atau terpal, tumpuk dan padatkan.
  5. Taburkan bekatul/dedak secara merata diatas permukaan jerami padi.
  6. Lalu siram dengan gembor plastic yang berisi campuran EM4 dan Molases, serta air di kepermukaan jerami padi hingga basah.
  7. Setelah itu, lakukan pembolak-balikan secara merata agar bahan yang digunakan tercampur secara merata atau homogen.
  8. Ketika bahan sudah tercampur semua, masukan jerami padi tersebut kedalam drum plastic sedikit-demi sedikit dan padatkan secara perlahan-lahan.
  9. Setelah selesai, tutup drum plastic yang sudah terisi dengan penutup plastic atau menggunakan penutup drum dan lakukan lakban hingga rapat (anaerob) atau tanpa udara sedikit pun.
  10. Diamkan selama 1 minggu, setelah 1 minggu pengaplikasanny sebaiknya keringkan terlebih dahulu sebelum diberikan ke ternak ruminansia.
Kriteria atau Ciri-Ciri Silase Yang Baik dan Berkualitas

Menurut Kartadisastra (2004), kualitas silase yang baik dapat diketahui secara organoleptik, yaitu:

  • Aroma tidak berbau busuk.
  • Tidak berjamur.
  • Berwarna seperti, jerami padi (kekuningan).
  • Dipegang terasa lembut dan empuk, tetapi tidak basa (berlendir).
  • Dan tidak menggumpal.

Baca juga:

Itulah ulasan singkat mengenai 10 Cara Mudah Membuat Silase Jerami Padi Untuk Pakan Ternak Ruminansia. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, serta menambah ilmu dan wawasan anda. Jangan Lupa Share, dan Like bila bermanfaat. TERIMA KASIH.

Mengenal Karakteristik Kambing Boer (Capra Aeragus Hircus)

Mengenal Karakteristik Kambing Boer (Capra Aeragus Hircus) – Kambing boer merupakan salah satu kambing pedaging yang banyak ditemukan di Indonesia, Kambing ini sangat mudah di ternakan karena penyesuaiannya snagat baik seperti kambing lain pada umumnya. Kambing boer ini berasal dari Afrikas Selatan, kemudian penyebaran sangat cepat melalui jalur perdagangan sehingga penyebaran sangat cepat.

Baca: 12 Cara Sukses Ternak Ayam Arab Petelur Bagi Pemula

Pertumbuhan dan perkembangan kambing boer sangat cepat dibandingkan dengan kambing lainnya, kambing ini dengan bobot badan 35-45 pada umur 5-6 bulan dan rata-rata pertambahan bobot 0,2-0,4 kg/hari. Sebelum beternak kambing boer, alangkah baiknya mengetahui karakteristik atau ciri-ciri kambing boer terlebih dahulu.

Karakteristik atau Ciri-Ciri Kambing Boer

Menurut Mahmilia, dan Tarigan (2004), ciri-ciri kambing boer adalah sebagai berikut:

  1. Kepala kambing boer memiliki bentuk cembung, memiliki hidung cembung dan berjanggut serta memiliki tanduk kebelakang.
  2. Postur tubuh panjang, melebar garis punggung lurus, kokoj dan bahu bundar.
  3. Warna rambut, putih kombinasi cokelat atau merah bata pada bagian leher bahkan kepala.
  4. Telinga mengantung, dan melebar.
  5. Bobot tubu, kambing jantan dewasa 80-130 kg dan betina dewasa 50-75 kg.
  6. Panjang badan jantan dewasa 76,5 cm dan betina dewasa 74,33 cm.
  7. Lebar dada jantan dewasa 26 cm dan betina dewasa 22 cm.
  8. Lingkar dada jantan dewasa 86,75 dan betina dewasa 23,5 cm.
  9. Panjang tanduk jantan dewasa 32,75 cm dan betina dewasa 24,45 cm.
  10. Panjang ekor jantan dewasa 15,6 cm dan betina 15 cm.
  11. Panjang telinga jantan dewasa 22 cm dan betina dewasa 20-24 cm.

Adapun cara memilih kambing boer yang unggul dan berkualitas berdasarkan cirri-ciri yang dimiliki, menurut American Boer Goet Associatian (2011) adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki bulu berwarna putih
  2. Bulu pada bagian leher berwarna kehitaman gelap
  3. Tanduk melengkung kebelakang
  4. Badan kuat dan sehat
  5. Gerakan lincah dan gesit
  6. Bentuk tubuh simetris dengan perdagingan yang dalam dan merata
  7. Pertumbuhan daging sangat cepat 0,2-0,4 kg/hari
  8. Bobot tubuh 5-6 bulan bisa mencapai 35-45 kg

Baca Juga:

Itulah ulasan diatas mengenai Mengenal Karakteristik Kambing Boer, semoaga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat serta menambah wawasan anda. TERIMA KASIH

Sistem Pencernaan Kambing dan Fungsinya

Sistem Pencernaan Kambing dan FungsinyaKambing (Capra aegagrus hircus) adalah salah satu subspesies yang banyak dipelihara atau dijinakan oleh berbagai macam kalangan masyarakat. Pencernaan kambing atau digesti adalah pemecahan bahan pakan sehingga bahan tersebut dapat mudah dicerna atau diserap oleh tubuh hewan.

Baca: Sistem Pencernaan Kuda dan Fungsinya

Sistem saluran pencernaan ternak  ruminansia, terutamanya kambing terdiri dari mulut, esofagus, lambung (rumen, retikulum, omasum, abomasum), usus halus, usus besar dan rektum.

Sistem Saluran Pencernaan Kambing dan Fungsinya

1. Mulut

Mulut adalah organ pertama sistem pencernaan, awal masuknya makanan kedalam tubuh ternak. Didalam mulut terdapat saliva, yang terdiri dari komponen organik (enzim, amilase, maltase, serum albumin, asam amino, asam laktat, lisosom dsb) dan komponen anorganik (khlorida, bikarbonat dan sodium). Fungsi mulut adalah tempat masuknya makanan dan tempat penggilingan makanan secara mekanis.

2. Esofagus (Kerongkongan)

Esofagus adalah saluran yang menghubungkan kavum oris dengan ventrikulus (lambung). Esofagus terdiri dari otot, sub mukosa, dan mukosa, pH normal pada esofagus ternak ruminansia adalah 7 yang berarti di dalam esofagus bernuansa netral.  Fungsi esofagus adalah tempat menghubungkan dan menghantarkan makanan dari mulut ke lambung.

3. Lambung (Ventrikulus)

Lambung kambing merupakan lambung yang komplek yang terdiri dari 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum dan abomasum.

  • Rumen disebut juga perut beludru adalah tempat terjadinya pencernaan secara fermentatif dan hidrolitik (membutukan bantuan enzim) serta tempat menyimpan bahan makanan fermentasi.
  • Retikulum disebut juga perut jala (Hardware stomach) adalah tempat fermentasi, proses ruminasi, absobsi hasil fermentasi dan mengatur arus ingesta ke omasum.
  • Omasum disebut juga perut buku, karena permukaan berbuku-buku adalah tempat grinder, filtering, fermentasi dan absorpsi.
  • Abomasum disebut juga perut sejati adalah tempat mencegah digesta yang ada di aomasum ke omasum, tempat pencernaan enzimatis dan mengatur arus digesta dari abomasum ke duedenum.

4.Usus Halus (Instestine tenue)

Usus halus atau dikenal juga Small Instestine  terdiri dari tiga bagian yaitu duedenum, jejenum dan ileum. Berdasarkan pada perbedaan-perbedaan struktural histologis atau mikroskop. Duedenum merupakan bagian yang perama kali dari usus, dengan panjang 8-15 cm, terletak di ujung anterior yang terhubung dengan perut. Jejenum dengan jelas dapat dipisahkan dengan duedenum, yaitu terdapat bintil putih sebagai pembatas memiliki panjang rata-rata 5-8 kaki atau ½ meter. Ileum adalah usus terakhir dari usus halus in dikenal sebagai usus penyerapan zat makanan dan terdapat lipatan atau lekukan didalamnya.

5. Usus Buntu (Sekum)

Usus buntu atau sekum memiliki suatu kantung yang terhubung dengan usus penyerapan. Fungsi usus buntu adalah tempat sisa penyerapan makanan, air, dan garam maupun zat lain yang setelah proses pencernaan.

6. Usus Besar (Large Instestine)

Usus besar terdiri dari sekum, colon dan rektum. Usus besar tidak menghasilkan ensim karena kelenjar-kelenjar yang ada adaah mukosa, karena tiap pencernaan yang terjadi di dalamnya adalah sisa-sisa kegiatan oleh enzim dari usus halus dan enzim yang dihasilkan oleh jasad-jasad renik yang banyak terdapat di usus besar. Fungsi usus besar adalah sebagai tempat proses pembusukan sisa digesti (pembentukan feses) dan proses reabsobpsi air dan partikel terlarut yang didalamnya.

7. Rektum

Rektum adalah bagian dari usus besar. Rektum adalah tempat penyimpanan feses yang akan dikeluarkan, melalui anus. Didalam rektum terdapat  bakteri dan serat.

Baca juga:

Demikianlah informasi tentang Sistem Pencernaan Kambing dan Fungsinya.  Semoga artikel diatas berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Cara Mengatasi dan Mengobati Kambing Keracunan

Cara Mengatasi dan Mengobati Kambing Keracunan – Keracunan pada kambing umumnya disebabkan oleh pakan yang dikonsumsi. Akibatnya kurang pengawasan dari peternakan dalam pemberian pakan atau pengembalan liar. Keracunan tersebut, biasanya disebabkan karena kambing terlalu banyak mengkonsumsi daun singkong (daun ketela pohon, atau ubi kayu) didalam tanaman tersebut memiliki kandungan zat sianida yang tinggi dan juga bisa disebabkan oleh larutan pestisida yang biasanya disemprotkan untuk membasmi rumput liar.

Baca: Cara Membuat Pakan Silase Untuk Pakan Ternak

Biasanya keracunan pada kambing akan terjadi didalam rumen, dalam waktu 15-20 menit didalam rumen lalu diabsorbsi dengan cepat dan akan mengalami detoksikasi. Bila tidak ditanggani akan menyebabkan kematian pada kambing, kematian pada kambing dengan dosis kira-kira 2,5 mg/kg bobot badan serta tergantung pada keadaan umur ternak.

Gejala Klinis dan Ciri – Ciri Kambing Keracunan

  • Keluarnya air liur (saliva), mulut berbusa dan ternak mengeluarkan feses serta urin.
  • Pupil mata melebar (dilatasi) dan membran mukosa tampak merah terang karena oksigen dalam dara tidak bisa dilepaskan.
  • Pernapasan kambing akan lebih cepat dan dalam (dyspnoe).
  • Ternak kambing gelisa atau meronta-ronta, dan bahkan jatuh dengan nafas terengah-engah yang diikuti dengan kekejangan

Cara Mengatasi dan Mengobati Kambing Keracunan

1. Kambing Keracunan Sianida (Daun Singkong)

  • Pengobatan umumnya diberikan gabungan antara Sodium Nitrat (Na2NO2) dengan Thiosulfat (Na2S2O3), dengan dosis 1 ml larutan 20% Na2NO2 dan 3 ml Na2S2O3 dengan bobot badan 45 kg.
  • Bisa juga dengan pemberian Hidroksokobalamin (vitamin B12a), namun tingkat kelarutan pada zat ini sangat rendah dan tidaklah efektif
  • Pengobatan tradisional dengan memberikan minyak kelapa ataupun air kelapa muda yang di minumkan ke ternak kambing yang keracunan.

2. Kambing Keracunan Pestisida

  • Pengobatan dengan kasus berat yaitu dengan memberikan Atropin sulfat 0-25-0,5 mg/kg bobot badan dengan pemberian ¼ intravena dan sisanya subkutan dengan interval 2-6 jam ternak yang masih bisa selamatkan

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang “Cara Mengatasi dan Mengobati Kambing Keracunan”. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat bagi peternak. Terima kasih.

Cara Membuat Pakan Silase Untuk Pakan Ternak

Cara Membuat Pakan Silase Untuk Pakan TernakSilase merupakan salah satu pakan hijauan yang sudah diolah dan diawetkan didalam kantong plastik, silo, atau drum yang kedap udara. Proses silase ini juga melibatkan mikroba atau bakteri yang akan membentuk asam susu, seperti Streptoccus dan Lactis acidi yang hidup secara anerob dengan derajat keasaman 4 (pH 4).

Baca: Cara Membuat Pakan Fermentasi Kambing Dari Jerami Padi Kering

Dengan membuat pakan silase, akan sangat menghemat penggunaan pakan hijauan yang biasa diberikan dan juga bisa tahan lama. Ketika musim hujan atau kemarau panjang, tidak perlu repot memotong rumput melainkan bisa memberikan pakan silase tersebut pada ternak. Biasanya pakan ternak yang diberikan silase adalah ternak ruminansia, seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan sebagainya.

Bahan-Bahan Yang digunakan:

  • Molases (Air tebu) 3%.
  • EM4 1 Botol.
  • Dedak halus 5%.
  • Menir 3,5%.
  • Onggok 3%.
  • Rumput gajah atau hijauan lain sebagai bahan silase.
  • Silo, drum atau kantong plastik

Cara Membuat Silase Pakan Ternak

  1. Lakukan pemotongan rumput yang digunakan sebagai bahan pembuatan silase, dengan ukuran 5-10 cm atau lebih. Bertujuan agar mempermudahkan untuk penyerapan mikroba, pencampuran bahan dan mempermudahkan dalam pemasukan ke silo, drum atau kantong plastik.
  2. Lakukan pencampuran semua bahan yang digunakan sampai merata.
  3. Setelah itu, masukan bahan tersebut kedalam silo, drum atau plastik dan padatkan hingga udara tidak masuk.
  4. Setelah dimasukan semua bahan silase, selanjutnya tutup rapat dengan menggunakan plastik sampai kedap udara dan berikan pemberat, seperti batu atau kantong plastik berisi tanah supaya wadah tidak mengeser ke tempat lain.
  5. Kemudian diamkan selama 6-8 minggu hingga proses fermentasi selesai dan dapat dibongkar serta tutup kembali dengan rapat.
  6. Pengambilan silase hanya secukupnya untuk pakan ternak, misalnya untuk 3-5 hari.
  7. Hindari membuka silo atau kantong plastik, agar silase yang dibuat tidak mudah rusak.

Baca Juga:

Demikianlah informasi mengenai “Cara Membuat Silase Untuk Pakan Ternak”.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.