Mengenal Karakteristik Domba Ekor Gemuk (Javanesa Fat Tailed)

Mengenal Karakteristik Domba Ekor Gemuk (Javanesa Fat Tailed)  –  Domba ekor gemuk (DEG) merupakan salah satu jenis domba lokal Indonesia yang memiliki potensi sebagai penghasil wol, daging dan susu yang baik karena memiliki produktivitas yang baik. Domba ekor gemuk menurut Devandra dan McLeroy (1982), diduga berasal dari Asia Barat.

Baca: 12 Jenis-Jenis Ayam Birma (Burma) Beserta Ciri-Cirinya

Domba ini memiliki kelebihan lain dari ternak lain adalah ketahan terhadap kondisi iklim panas dan tahan terhadap penyakit, sehingga banyak peternak rakyak yang beternak domba ekor gemuk ini. Namun, sebelum beternak domba ekor gemuk harus terlebih dahulu mengetahui ciri-ciri atau karakteristik bertujuan untuk menentukan kualitas ternak yang akan diternakan sehingga menghasilkan produktivitas tinggi.

Karakteristik atau Ciri-Ciri Domba Ekor Gemuk

Menurut Malewa (2007), domba ekor gemuk memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Ekor besar, lebar dan panjang.
  2. Bagian pangkal ekor yang membesar merupakan timbunan lemak,
  3. Sedangkan ekor kecil bagian ujung tidak berlemak.
  4. Bulu mengumpal, dan berwarna putih kotor.
  5. Pada umumnya, domba ekor gemuk tidak memiliki tanduk seperti domba lainnya.
  6. Berat jantan dewasa antara 30-40 kg, dan betina dewasa 25-35 kg.
  7. Tinggi badan jantan dewasa antara 60-75 cm, sedangkan betina dewasa 52-60 cm.
Keuntungan Beternak Domba ekor Gemuk
  1. Kemampuan adaptasi lingkungan sangat baik, dan daya tahan terhadap penyakit cukup tinggi.
  2. Pemeliharaan Domba Ekor Gemuk tergolong mudah, dan lebih jinak jika dibandingkan ternak lainnya sehingga mudah digembalakan.
  3. Produktivitas yang dihasilkan lebih tinggi, terutamanya daging, susu dan wol (bulu).
  4. Harga jual Domba Ekor Gemuk relative mahal, dan pemasaran sangat mudah.
  5. Bulu domba Ekor Gemuk tebal, sehingga tahan terhadap panas atau dingin bila terjadinya perubahan iklim yang sangat membantu sebagai menetralisir suhu tubuh.

Baca juga:

Demikianah informasi tentang  Mengenal Karakteristik Domba Ekor Gemuk (Javanesa Fat Tailed)  .  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat serta menambah wawasan anda dalam beternak Domba Ekor Gemuk. Jangan Lupa Share dan Like. TERIMA KASIH.

10 Cara Mudah Membuat Silase Jerami Padi Untuk Pakan Ternak Ruminansia

10 Cara Mudah Membuat Silase Jerami Padi Untuk Pakan Ternak Ruminansia Apa itu Silase? Silase adalah salah satu pakan yang diawetkan dengan beberapa proses dengan menggunakan bahan baku berupa, tanaman hijauan, limbah industry pertanian dan bahan alami lainnya.

Baca: Mengenal Karakteristik Sapi Simental (Simental Cow)

Namun, dalam kesempatan ini salah satu limbah yang dimanfaatkan sebagai bahan pakan alternative adalah limbah jerami padi untuk pakan ternak ruminansia seperti sapi, kambing, kerbau dan sebagainya. Kandungan jerami padi menurut Sarwono dan Arianto (2003) adalah Bahan kering (BK) 92,00%, Protein kasar (PK) 5,31%, Lemak kasar (LK) 3,32%, Serat kasar (SK) 32,14%, BETN 36,68%, Abu 22,25%, ADF 51,53%, NDF 73,82% dan Lignin 8,81%.

Alat dan Bahan Yang Digunakan:

Alat:

  • Timbangan
  • Ember
  • Terpal
  • Drum plastik
  • Plastic penutup dan lakban (untuk mengguatkan saat mengunci drum plastik bila diperlukan)

Bahan:

  • Jerami padi 30 kg
  • EM4 20 ml
  • Bekatul 3 kg (10% dari 30 Kg jerami)
  • Molases (tetes tebu) 500 ml
  • Air secukupnya
Cara Membuat Silase Jerami Padi Pakan Ternak Ruminansia
  1. Jerami padi dipotong-potong atau digiling dahulu hingga memiliki ukuran yang lebih kecil, agar ternak dapat mengkonsumsinya dengan mudah.
  2. Lakukan penimbangan bahan yang digunakan sesuai dengan yang diatas Jerami padi 30 kg, EM4 20 ml, Bekatul 3 kg (10% dari 30 Kg jerami) dan Molases (tetes tebu) 500 ml.
  3. Kemudian campurkan terlebih dahulu EM4 dan Molases serta air, didalam ember hingga merata dan masukan kedalam gembor plastic.
  4. Letakan jerami padi diatas plastic atau terpal, tumpuk dan padatkan.
  5. Taburkan bekatul/dedak secara merata diatas permukaan jerami padi.
  6. Lalu siram dengan gembor plastic yang berisi campuran EM4 dan Molases, serta air di kepermukaan jerami padi hingga basah.
  7. Setelah itu, lakukan pembolak-balikan secara merata agar bahan yang digunakan tercampur secara merata atau homogen.
  8. Ketika bahan sudah tercampur semua, masukan jerami padi tersebut kedalam drum plastic sedikit-demi sedikit dan padatkan secara perlahan-lahan.
  9. Setelah selesai, tutup drum plastic yang sudah terisi dengan penutup plastic atau menggunakan penutup drum dan lakukan lakban hingga rapat (anaerob) atau tanpa udara sedikit pun.
  10. Diamkan selama 1 minggu, setelah 1 minggu pengaplikasanny sebaiknya keringkan terlebih dahulu sebelum diberikan ke ternak ruminansia.
Kriteria atau Ciri-Ciri Silase Yang Baik dan Berkualitas

Menurut Kartadisastra (2004), kualitas silase yang baik dapat diketahui secara organoleptik, yaitu:

  • Aroma tidak berbau busuk.
  • Tidak berjamur.
  • Berwarna seperti, jerami padi (kekuningan).
  • Dipegang terasa lembut dan empuk, tetapi tidak basa (berlendir).
  • Dan tidak menggumpal.

Baca juga:

Itulah ulasan singkat mengenai 10 Cara Mudah Membuat Silase Jerami Padi Untuk Pakan Ternak Ruminansia. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, serta menambah ilmu dan wawasan anda. Jangan Lupa Share, dan Like bila bermanfaat. TERIMA KASIH.

Cara Membuat Pakan Silase Untuk Pakan Ternak

Cara Membuat Pakan Silase Untuk Pakan TernakSilase merupakan salah satu pakan hijauan yang sudah diolah dan diawetkan didalam kantong plastik, silo, atau drum yang kedap udara. Proses silase ini juga melibatkan mikroba atau bakteri yang akan membentuk asam susu, seperti Streptoccus dan Lactis acidi yang hidup secara anerob dengan derajat keasaman 4 (pH 4).

Baca: Cara Membuat Pakan Fermentasi Kambing Dari Jerami Padi Kering

Dengan membuat pakan silase, akan sangat menghemat penggunaan pakan hijauan yang biasa diberikan dan juga bisa tahan lama. Ketika musim hujan atau kemarau panjang, tidak perlu repot memotong rumput melainkan bisa memberikan pakan silase tersebut pada ternak. Biasanya pakan ternak yang diberikan silase adalah ternak ruminansia, seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan sebagainya.

Bahan-Bahan Yang digunakan:

  • Molases (Air tebu) 3%.
  • EM4 1 Botol.
  • Dedak halus 5%.
  • Menir 3,5%.
  • Onggok 3%.
  • Rumput gajah atau hijauan lain sebagai bahan silase.
  • Silo, drum atau kantong plastik

Cara Membuat Silase Pakan Ternak

  1. Lakukan pemotongan rumput yang digunakan sebagai bahan pembuatan silase, dengan ukuran 5-10 cm atau lebih. Bertujuan agar mempermudahkan untuk penyerapan mikroba, pencampuran bahan dan mempermudahkan dalam pemasukan ke silo, drum atau kantong plastik.
  2. Lakukan pencampuran semua bahan yang digunakan sampai merata.
  3. Setelah itu, masukan bahan tersebut kedalam silo, drum atau plastik dan padatkan hingga udara tidak masuk.
  4. Setelah dimasukan semua bahan silase, selanjutnya tutup rapat dengan menggunakan plastik sampai kedap udara dan berikan pemberat, seperti batu atau kantong plastik berisi tanah supaya wadah tidak mengeser ke tempat lain.
  5. Kemudian diamkan selama 6-8 minggu hingga proses fermentasi selesai dan dapat dibongkar serta tutup kembali dengan rapat.
  6. Pengambilan silase hanya secukupnya untuk pakan ternak, misalnya untuk 3-5 hari.
  7. Hindari membuka silo atau kantong plastik, agar silase yang dibuat tidak mudah rusak.

Baca Juga:

Demikianlah informasi mengenai “Cara Membuat Silase Untuk Pakan Ternak”.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Cara Mengobati Penyakit Orf Pada Kambing dan Domba

Cara Mengobati Penyakit Orf Pada Kambing dan Domba – Penyakit orf atau Ektima kantagiosa adalah salah satu jenis penyakit kulit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus dari genus parapox dari keluarga poxviridae (Fauquest dan Mayo, 1991). Penyakit ini seraing menyerang ternak kambing dan domba, serta dapat menular ke manusia (zoonosis).

Di beberapa daerah Indonesia penyakit ini disebut berbeda-beda, terutamanya di Bali penyakit ini dikenal dengan dakangan, Sumatra Utara dikenal dengan puru atau muncung, Jawa Barat dikenal dengan bintumen.

Gejala Klinis Penyakit Orf Kambing dan Domba

Ada beberapa gejala yang akan ditimbulkan dari penyakit orf, umumnya adalah:

  • Lesi-lesi pada bagian sekitar bibir/mulut, terutamanya sudut bibir.
  • Munculnya bintik-bintik merah pada kulit kambing/domba.
  • Bintik-bintik merah berubah menjadi vesikel dan pustula (terjadinya penanahan).
  • Bila sudah akut, tonjolan-tonjolan akan berkerak dan berbau busuk.
  • Mulut akan menjadi bengkak disertai dengan bau busuk.
  • Bagian tubuh lain juga akan mengalami hal tersebut, terutamanya bagian hidung, sekitar mata, telinga, peru/lipatan perut, kaki, ambing, puting usus atau vulva (Abjid, 1989, dan Watt, 1983).

Cara Penularan Penyakit Orf Kambing dan domba

Penyakit orf dapat menular dari hewan yang sakit ke hewan lain secara kontak langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung penyakit ini akan menular melalui peralatan, atau lingkungan yang tercemar virus orf. Masuknya virus orf ini kedalam tubuh hewan melalaui luka kecil, seperti goresan yang terjadi akibat rumput yang tajam/duri atau luka karena proses mekanik lainnya (McKeever dkk.,1988).

Cara Mengatasi dan Mengobati Penyakit Orf

Ada beberapa cara mengatasi dan mengobati/memberantas penyakit orf, berdasarkan petunjuk Direktorat Kesehatan Hewan (1986) adalah sebagai berikut:

  1. Daerah yang masih bebas dari penyakit orf, dilakukan penolakan penyakit dan tindakan karantina yang ketat. Pemusnahan hewan yang sakit, apabila hewan masih sedikit yang terjangkit. Bisa dilakukan ring vaksinasi dan sanitasi, namun bisa sudah menyebar luas lakukan tindakan pemusnahan.
  2. Pada daerah tertular, lakukan tindakan pencegahan penyakit dengan cara sanitasi kandang dan lingkungan pemeliharaan, pencegahan pengembalaan hewan sehat bersama hewan sakit atau tempat bekas hewan penderita.
  3. Pengendalian penyakit pada daeraj tertular daat dilakukan dengan cara vaksinasi teratur, sedangkan hewan sakit dilakukan isolasi secara ketat dan terpisah dari hewan lainnya.
  4. Apabila penyakit bersifat wabah, maka lakukan tindakan lain terutamanya pembuatan papan dilarang masuk, karena penyakit menular. Lalu peralatan yang sudah terjangkit sebaiknya dilakukan pemusnahan dan tidak digunakan kembali.
  5. Khusus bagi peternakan pembibitan sebaiknya menggunakan daerah bebas penyakit orf/dakangan.
  6. Pengobatan penyakit ini bisa dilakukan dengan manual dan menggunakan obat-obatan, bila manual dapat dilakukan pengelupasan/pengerokan keropeng dan penyemprotan antibiotik/desinfeksi dengan menggunakan alcohol untuk mencegah perluasan dan penyebaran penyakit.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Mengobati Penyakit orf Kambing dan Domba.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Cara Mengatasi Penyakit Mastitis Ternak Kambing dan Domba Perah

Cara Mengatasi Penyakit Mastitis Ternak Kambing dan Domba PerahPenyakit mastitis atau dikenal dengan istilah radang ambing adalah salah satu penyakit yang menyerang kelenjar susu, sehingga terjadi pembengkakan dan kesakitan pada ambing ternak.

Penyakit mastitis penyerang pada kambing perah, domba perah dan bahkan sapi perah penyakit ini juga menyerang. Mastitis akan menyebabkan produkti susu akan menurun, dan bahkan susu yang dikeluarkan akan berupa nanah, bukan susu lagi.

Baca: Cara Mempercepat Kambing dan Domba Betina Birahi

Penyebab Mastitis Kambing dan Domba Perah

Penyebab utama penyakit mastitis disebabkan oleh bakteri dan jamur, seperti Streptococcus agalactiae, Staphylooccus aureus, Staphylooccus aureus Epidermis,  Streptococcus dyglactiae, Streptococcus uberis, Klebsiella dan Escheria colli, sedangkan penyebab utama yang disebabkan oleh jamur, adalah Actynomices sp, dan Candida sp.

Gejala dan Ciri-ciri Kambing/Domba Terkena Mastitis

Ada beberapa gejala klinis atau ciri-ciri kambing/domba terkena penyakit mastitis, umumnya adalah:

  • Pembengkakan pada salah satu kuartir/ambing bagian kiri atau kanan.
  • Bagian ambing akan mengeras, memerah dan terasa panas.
  • Bila diperah susu akan berubah bening dan encer, bila sudah akut akan berubah menjadi darah dan bernanah.
  • Perubahan bentuk pada ambing, dan mengakibatkan kambing gelisah.
  • Bila tidak ditangani, kambing akan mati mendadak.

Pengendalian Penyakit Mastitis Kambing dan Domba Perah

  • Membersihkan kandang dengan teratur.
  • Membersihkan peralatan yang digunakan, dalam pemerahan.
  • Melakukan pemerahan dengan tepat, agar tidak terkontaminasi bakteri dan menyebabkan penyakit menyerang ternak.
  • Membersihkan kambing atau domba, dengan cara memandikan ternak dengan teratur sebelum melakukan pemerahan.
  • Melakukan vaksinasi secara berskala, bertujuan untuk menghindari serangan dari beberapa penyakit.

Cara Mengatasi dan Mengobati  Penyakit Mastitis Kambing dan Domba Perah

  1. Memisahkan kambing atau domba yang terserang, penyakit mastitis dikandang tertentu.
  2. Lakukan pemeriksaan dengan baik, selain itu juga mencelupkan antiseptik pada ambing. Berguna untuk mengurangi penyebaran penyakit dan mengurangi peradangan.
  3. Bisa juga menggunakan larutan atau cairan iodium dan klorin, untuk mencegah bakteri masuk ke ambing ternak.
  4. Pengobatan untuk penyakit mastitis, bisa dengan memberikan antibiotic berspectrum misalnya Peniciline-streptomicine, antibiotic long musular dan Spiramycine.
  5. Jika pengobatan dilakukan, untuk mendapatkan hasil yang maksimal semprotkan antiseptic seperti Gusanex, untuk menghindari infeksi yang lebih parah dan terkontaminasi bakteri berasal dari luar.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Mengatasi Penyakit Mastitis Kambing dan Domba Perah.  Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat, terima kasih.

Cara Mempercepat Kambing dan Domba Betina Birahi

Cara Mempercepat Kambing dan Domba Betina BirahiBirahi kambing/domba  adalah keadaan dimana kambing/domba untuk menghasilkan individu baru, atau anakan baru dengan tanda-tanda ingin mau kawin kembali. Beternak kambing/domba adalah salah usaha yang banyak dilakukan oleh peternak Indonesia dikarenakan sangat menguntungkan.

Namun, yang harus diperhatikan adalah bagaimana cara menghasilkan anakan dengan cepat dengan cara mempercepat kambing/domba birahi. Berikut beberapa hal yang harus diketahui cara mempercepat kambing/domba birahi dengan tepat dan benar.

Cara Mempercepat Kambing/Domba Birahi

  1. Melakukan flushing untuk mempercepat birahi kambing/domba, flushing adalah perbaikan kondisi ternak melalui pemberian pakan dengan kualitas gizi yang tinggi pada waktu yang tertentu.
  2. Penyuntikan hormon, hormon yang digunakan misalnya Prostaglandin F2 alpa merk Reprodin dari bayer atau Lutalyse, Dinoprost tromethamine 100 ml Pharmacia & Upjohn Company Kalamzoo, Ml 49001, USA.
  3. Bisa juga memberikan hormon estrogen yang dapat mudah diserap di organ reproduksi betina, misalnya Estrogen berasal daro Oestradiol Benzoate (OB).
  4. Mencampurkan ternak betina dengan pejantan, dikandang tertentu sehingga akan meningkatkan birahi secara perlahan.
  5. Setelah mempercepat birahi, anda bisa juga menyerentakan birahi semua kambing/domba dengan cara menggunakan senyawa kimia yang memiliki sifat seperti progesteron, misalnya Prostagen (Progesteron sintetik) yang ditanamkan dalam vagina selama 12-14 hari.

Faktor Penyebab Kambing/Domba Tidak Birahi

  • Faktor Lingkungan
  • Suhu Lingkungan
  • Genetik
  • Umur ternak

Baca Juga

 

Demikianlah informasi tentang Cara Mempercepat Kambing/Domba Birahi. Semoga artikel diatas dapat berguna dan bermanfaat. Terima kasih.

Pengertian dan Defenisi Transfer Embrio Pada Ternak

Pengertian dan Defenisi Transfer Embrio Pada Ternak | Transfer Embrio Sapi/Kambing/domba – Pengertian transfer embrio adalah generasi kedua bioteknologi reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Transfer embrio merupajan salah satu proses dimana embrio (fertilized ova) dikoleksi dari alat kemanm ternak betina menjelang nidasi dan transplantasi kedalam saluran reproduksi betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga sempurna, misalnya seperti konsepsi, implantasi/nidasi dan kelahiran.

Pengertian transfer embrio secara umum adalah suatu proses, mulai dari pemilihan donor, sinkronisasi birahi, superovulasi, inseminasi, koleksi embrio, penangganan dan evaluasi embrio, tranfers embrio ke ke resipien hingga sampai pemeriksaan kebuntingan dan kelahiran.

Baca: Pengertian dan Defenisi Inseminasi Buatan (IB) Pada Hewan

Transfer embrio diproduksi dapat dilakukan dua cara yaitu secara in vivo dan in vitro, adalah sebagai berikut:

1.Teknik In Vivo

Hewan betina donor akan menjalani superovulasi, yakni penyuntkan hormon gonadotropin (FSH, PMSG/CG atau HMG) berguna untuk mengandakan produksi sel telur. Sel telur yang diovulasi tersebut, akan mengalami pembuahan dan perkembangan menjadi embrio lalu ditampung atau dikoleksi untuk ditransfer pada betina resipien.

Kemudian, embrio dapat dibekukan atau dimanipulasi guna menghasilkan kembar identik/meningkatkan mutu genetik.

2.Teknik In Vitro

Pada teknik ini, sumber sel telur umumnya berasal dari ovarium yang berasal dari hewan yang telah dipotong. Dari beberapa penelitian limbah rumah potong hewan (RPH), juga dapat gunakan dalam teknik ini. Namun, bisa juga menggunakan teknik ini dengan bantuan alat ultrasonografi teknik “ ovum pick up” berguna untuk menyediakan oosit ternak unggil yang masih produktif tanpa harus menggunakan ternak yang sudah dipotong.

Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Pengertian dan Defenisi Transfer Embrio Ternak Sapi, Kambing dan Domba. Semoga berguna dan bermanfaat. Terima kasih

Tanda-Tanda Kambing dan Domba Mau Kawin (Birahi)

Tanda-Tanda Kambing dan Domba Mau Kawin (Birahi) – Tanda kambing dan domba siap kawin memang harus diketahui oleh peternak, namun sebagian peternak belum memahami/mengetahui ternak kambing dan domba siap kawin. Oleh sebab itu, dalam kesempatan ini kami akan menjelaskan ciri-ciri kambing atau domba siap kawin baik untuk peternak pemula maupun peternak yang sudah lama beternak kambing, namun belum mengetahui/memahami  tanda kambing dan domba siap untuk dikawinkan (birahi).

Baca: Tanda-Tanda Kambing Yang Akan Melahirkan

Berikut Tanda dan Ciri Kambing dan Domba Siap Untuk Kawin (Birahi)

  1. Secara umum, kambing dan domba jantan dewasa berumur 6-8 bulan dan kambing dan domba betina dewasa 9-12 bulan sudah siap untuk dikawinkan.
  2. Alat kelamin betina terlihat membengkak dan basah.
  3. Alat kelamin betina berwarna kemarahan, berbau dan hangat bila disentuh.
  4. Nafsu makan menurun.
  5. Kambing dan domba tampak gelisah daripada biasanya.
  6. Kadang kambing dan domba menaiki sesama jenis.
  7. Dinaiki ternak pejantan kambing atau domba diam saja.
  8. Tingkah laku lebih agresif.
  9. Perlu diketahui durasi birahi hanya 18-20 jam.
  10. Apabila tidak segera dikawinkan atau tidak terjadi kebuntingan, maka birahi akan muncul kembali dalam jangka waktu 19-21 hari kemudian.

Baca Juga:

 

Demikianlah informasi tentang Tanda-Tanda Kambing dan Domba Birahi/ingin kawin, semoga informasi yang disampaikan berguna dan bermanfaat. Terima kasih

Cara Budidaya Domba

Cara Budidaya Domba – Dengan permintaan pasar yang semakin tinggi dan modal usaha yang relative kecil, menjadikan bisnis budidaya domba menjadi salah satu peluang yang menjanjikan. Selain itu, domba juga sangat cepat dalam berkembang biak yakni dalam satu tahun bisa beranak hingga 3 kali dan sekali beranak dapat menghasilkan sampai 3 ekor.

Namun, sebelum anda mencoba budidaya domba, anda harus menetukan terlebih dahulu domba apa yang akan anda budidayakan mengingat jenis domba yang beredar banyak. Setelah anda sudah memutuskan, anda bisa menyimak cara berikut dalam budidaya domba.

Baca: Cara Budidaya Kambing

Cara Budidaya Domba

1.   Pemilihan bibit induk

Dalam memilih induk, kita haris memperhatikan indukan betina yang berkualitas, sehat, aktif bergerak, pertumbuhan bagus dan bebas dari cacat. Bibit adalah faktor penting dalam mendukung peternak agar mampu menghasilkan domba-domba berkualitas baik sehingga harga jual tinggi. Untuk lebih jelasnya, berikut syarat-syarat indukan jantan dan betina domba:

Syarat Calon Induk Betina

  • Indukan yang dibeli harus berasal dari peternak langsung.
  • Memiliki ukuran badan yang besar, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, serta bulu bersih dan mengkilap.
  • Memiliki kaki yang lurus dan kokoh, serta memiliki tumit yang tinggi.
  • Berumur lebih dari satu tahun dan telah mengalami birahi sebelum umur satu tahun.
  • Bentuk dan ukuran alat vital normal, ambingnya tidak terlalu menggantung, tidak infeksi, serta memiliki dua puting susu dengan ukuran dan posisi yang simetris.
  • Tidak ada cacat pada domba tersebut.
  • Memiliki sifat keibuan, dapat terlihat dari tingkat kejinakkan ternak dan sorot mata yang ramah.
  • Pilihlah domba yang jumlah giginya lengkap antara rahang atas dan rahang bawah. Tujuannya agar induk dapat memamah biak dengan sempurna.

Syarat Calon Induk Jantan

  • Domba jantan harus memiliki tubuh yang normal, panjang, dan besar.
  • Mempunyai dada dalam yang lebar serta kaki yang kokoh dan lurus kuat.
  • Pertumbuhannya relatif cepat.
  • Memiliki gerakan yang lincah dan terlihat ganas.
  • Alat vital normal dan simetris serta sering terlihat ereksi.
  • Tidak pernah memiliki penyakit yang serius.
  • Umur domba jantan kurang lebih 1,5 – 5 tahun.
  • Pilihlah calon induk jantan dari kelahiran kembar dan berasal dari induk dengan jumlah anak lebih dari dua ekor.

2.   Kandang Domba

Sistem kandang ternak domba ada dua tipe, yaitu kandang koloni dan kandang tunggal. Untuk kandang koloni biasanya berukuran 1 x 3 meter dan dapat menampung sebanyak 10 ekor domba. Sedangkan kandang tunggal biasanya memiliki ukuran yang sesuai dengan ukuran tubuh domba dan domba tidak bisa berbalik arah. Dan kandang ini sangat cocok untuk usaha penggemukan domba.

3.   Pemberian Pakan

Dalam pemberian makan domba yang harus diperhatikan adalah komposisi pakan. Biasanya dalam sehari domba mengkonsumsi pakan hijau seperti daun, rumput atau jerami sebanyak 10-20% dari bobot tubuhnya dan minum sebanyak 3-4 liter sehari.

Selain itu, pakan pendamping dapat menggunakan pakan konsentrat. Konsentrat berfungsi sebagai pelengkap kebutuhan sumber protein. Pakan konsentrat bisa berupa biji-bijian dan umbi-umbian atau biasanya menggunakan ampas tahu atau bekatul.

4.   Cara merawat domba

Berikut ini hal-hal yang harus anda perhatikan dalam merawat domba.

  • Menjaga kebersihan kandang secara teratur. Kotoran domba bisa dijadikan sebagai sumber pemasukan sampingan untuk dijual sebagai pupuk kandang
  • Memandikan domba agar bersih dan terhindar dari serangan penyakit, seperti cacingan dan kudis. Mandikan domba setiap satu minggu sekali. Domba yang bersih akan berdampak pada kesehatan dan nafsu makannya.
  • Mencukur bulu domba, pencukuran bisa dilakukan setiap 6 bulan sekali. Sisakan bulu dipermukaan kulit setebal 0,5 cm.
  • Merawat dan memotong kuku dengan pisau tajam yang bersih. Pemotongan kuku ini dilakukan setiap 4 bulan sekali.

 Baca Juga:

Demikianlah informasi tentang Cara Beternak Domba. Semoga berguna dan bermanfaat. Terima Kasih.